JAKARTA: Peti kemas impor menumpuk di Pelabuhan Tanjung Priok akibat importir belum mengeluarkan barangnya dan truk peti kemas belum beroperasi normal selama libur panjang Lebaran.
Tingkat kepadatan di lapangan penumpukan atau yard occupancy ratio (YOR) peti kemas impor di Terminal Peti Kemas (TPK) Koja kemarin mencapai 102%, TPK Mandiri Alam Lestari (MAL) 103,7%, dan di Jakarta International Container Terminal (JICT) sudah melampaui 87%.
Guna mengatasi kepadatan peti kemas di lapangan penumpukan impor itu, PT Pelabuhan Indonesia II, pengelola Pelabuhan Tanjung Priok, menggunakan lahan di lapangan peti kemas ekspor.
"Kepadatan ditangani dengan menggunakan lahan ekspor, sehingga secara tentatif ada penambahan untuk lahan peti kemas impor," ujar Direktur Operasi Ferialdi kepada Bisnis kemarin.
Kepala KPU Ditjen Bea dan Cukai Tanjung Priok Rachmat Subagio menyatakan pihaknya siap membantu pengelola terminal untuk mencegah stagnasi selama tidak menimbulkan biaya tinggi terhadap pemilik barang.
Dia mengungkapkan sejak 24 September sebenarnya sudah banyak barang impor yang berstatus persetujuan pengeluaran barang, terutama peti kemas jalur hijau. "Namun, mungkin pemilik barang belum mengeluarkannya karena truk tidak tersedia atau pabrik belum membutuhkan."
Widijanto, Wakil Ketua DPW Gabungan Forwarder, Ekspedisi, dan Logistik DKI, mengakui hingga kemarin pengeluaran barang belum normal. Selain truk tidak tersedia, permintaan untuk mengeluarkan barang dari importir juga belum ada.
Dia memperkirakan kondisi di Priok akan kembali normal mulai pekan depan, sebab penumpukan barang impor itu bukan akibat lambannya proses dokumen, tetapi lebih disebabkan dampak liburan panjang Lebaran.
Namun, Paul Krisnadhi, General Manager PT Mustika Alam Lestari (MAL), salah satu pengelola terminal di Tanjung Priok, mengatakan potensi kepadatan peti kemas masih akan terjadi hingga 3 pekan mendatang.(ndul)